Pada suatu hari….
Beberapa jam lagi 20 Februari berakhir. Waktu menunjukkan pukul 20.57 ketika keadaan di luar masih gerimis. Hari ini umurku telah berkurang satu tahun..ya berkurang 1 tahun atau lebih tepatnya aku berulang tahun…alhamdulillah aku masih diberi banyak kenikmatan meskipun terkadang aku kurang menyadarinya (maafkan aku ya Rabb).
Pada dasarnya aku ga suka dengan “perayaan” hari kelahiranku, tapi saat ini aku menertawai diriku sendiri karena ternyata ga ada yang ingat ulang tahunku..ha..ha..ha…(ga penting padahal he..he..). Bahkan keluargaku sendiri.
Hingga malam hari aku sedikit berharap ada yang ingat, ternyata tidak ada sama sekali. Aku merasa sedikit merasa sedikit kesepian. Dengan terpaksa pada akhirnya aku bilang ke Laras (adiku) “masa ra ngucapna selamat ulangtahun sih..ha..ha..”aku bilang ke Laras karena besok giliran dia yang ulang tahun. “oiya mas..ha..ha..ha..selamat ya..klalen” Laras merespon omonganku sambil tertawa. Ibuku yang mendengar guyon kami langsung tertawa terpingkal-pingkal dan langsung mengucapkan “selamat ulang tahun ya..ora penting sih, dadi kelalen”Ibuku menyelamatiku sambil tertawa. Suasanapun menjadi hangaKupikir, terkadang kita perlu mengucapkan selamat pada hal-hal yang sangat personal baik itu peraihan prestasi seseorang, selamat karena mendapat kebahagiaan bahkan bila perlu mengucapkan selamat ulang tahun sebagai bentuk perhatian kita kepada seseorang tersebut. Ucapan selamat mampu memberikan penguatan psikologis dan mampu mengikat secara emosional dengan kata lain mengindikasikan kepedulian dan kedekatan seseorang dengan orang lain. (secara umum, bukan tentang kisah wagu-ku he..he..).
Saya pribadi bisa merasakan ketika kawan atau rekan kantor mengucapkan selamat atau ucapan terimakasih atau bahkan ucapan simpati misalnya, maka saya akan merasakan bahwa dia mengakui secara individu keberadaan kita. Dengan pengalaman tersebut saya mendapat pelajaran berharga untuk memperhatikan hal-hal yang sangat bersifat personal pada orang-orang yang berinteraksi dengan saya.
Saya pun kembali teringat akan materi psikologi semasa kuliah beberapa tahun lalu. Bahwa manusia memiliki beberapa kebutuhan (Teori Kebutuhan Maslow), diantaranya:
- Kebutuhan Dasar Psikologi
- Kebutuhan Rasa Aman
- Kebutuhan Pengakuan dan Kasih Sayang
- Kebutuhan Penghargaan
- Kebutuhan Kognitif
- Kebutuhan Aktualisasi Diri
Dengan mengetahui teori mengenai psikologi dasar kebutuhan seorang manusia tersebut setidaknya kita akan lebih bisa memahami orang lain dan diharapkan lebih dapat bijaksana dalam interaksi sosial kita.
Pengalaman dan pengetahuan inipun ingin saya aplikasikan dalam proses belajar mengajar. Saya sebagai guru perlu memiliki kedekatan emosional dengan siswa sebagai pebelajar. Banyak cerita mengenai ketidakmampuan siswa menyerap pelajaran hanya dikarenakan subjektifitas negatif siswa terhadap gurunya. Antipati siswa kepada guru yang mungkin disebabkan tindakan kurang simpatik guru maupun teknik mengajar yang kurang tepat ternyata mampu mengurangi daya terima siswa terhadap materi yang disampaikan. (berdasarkan pengalaman bukan dari penelitian, maaf saja bila kurang valid) . Dan pada dasarnya hal tersebut karena guru kurang memperhatikan kebutuhan dasar siswa sebagai manusia. Meskipun daya serap materi pun dipengaruhi oleh kemampuan kognitif siswa, faktor lingkungan dan lain-lain. Namun penguatan secara psikologi dengan memperhatikan kebutuhan dasar manusia tetap harus diperhatikan. (Abel)
*Catatan:
Hingga tulisan ini diposting di Nyangkol Net pukul 22.45 WIB, Suryadi Indrasta (Kasur) teman Mapala Greencore Unsoed yang merespon ultahku di Facebook…ha..ha..ha..maturnuwun Pak De Kasur

