Sebuah analogi… Ada seseorang yang suatu hari diberi amanah untuk menjaga sebuah rumah mewah. Sang pemilik memberikan kepercayaan kepada penjaga tersebut untuk merawat, menjaga dengan menempatinya selama sang pemilik pergi. Penjaga tersebut seketika itu mampu merasakan berbagai kenikmatan fasilitas yang ada di rumah mewah tersebut. Rumah tersebut memang dilengkapi berbagai fasilitas yang belum pernah dia nikmati ataupun rasakan sebelumnya. “sunggguh luar biasa”pikirnya “aku menjadi raja dirumah ini”.
Waktu terus bergulir, dan ternyata sang pemilik memiliki keperluan yang lebih lama dari perkiraannya. Dan kebetulan dia memang memiliki beberapa rumah ditempat lain. Penjaga tersebut pada akhirnya menempati rumah itu karena terlalu repot bolak-balik ke gubugnya. Bulan berganti bulan hingga setelah bertahun-tahun ternyata sang pemilik memutuskan untuk tidak kembali ke rumah tersebut. Penjaga itupun menjadi sangat nyaman dan sudah merasa rumah tersebut bagian dari miliknya. Dan diapun kini memiliki rasa enggan untuk kembali ke gubug reyotnya.
Dalam kondisi tersebut tersebut tentu ia akan disebut tidak waras apabila dia mengaku-ngaku bahwa dialah pemilik, rumah itu, meskipun dia telah bertahun-tahun menempatinya serta leluasa menggunakan seluruh fasilitasnya.
Harta, pekerjaan. keluarga kita, orang-orang yang kita kasihi pada kenyataannya bukanlah milik kita. Kita memasuki dunia ini tanpa kekuatan atau kemampuan apapun. Bertahun tahun kita menjalani usia kita dengan merasakan nikmat yang Allah Subhanahuwata’ala berikan. Karena terlalu banyak kenikmatan yang anuegerahkan-Nya pada kita maka kita cenderung menganggap kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah hal yang biasa. Dan lebih parahnya lagi kita menganggap bahwa “fasilitas” yang diamanahkan kepada kita baik harta, keluarga, maupun orang-orang terkasih adalah milik kita dengan meniadakan Allah subhanahuwata’ala sebagai Pemiliknya.
Dapat saja kita mengatakan bahwa orang yang mengaku-ngaku bahwa ”fasilitas ” dan kenikmatan yang digunakannya adalah miliknya mutlak pantas disebut orang yang tidak waras. Karena dia meniadakan pemilik yang sebenarnya. Dialah Allah Subhanahu wata’ala. Rabbul-alamin (Pemilik dan Penguasa atas segala sesuatu). Wallahu a’lam . (Abel)


