Kembali menulis

Beberapa hari yang lalu aku dapat dorongan semangat dari salah satu sahabatku untuk kembali menulis.  Ya kini aku akan kembali mulai menulis, menulis ide, gagasan atau hanya catatan ringan perjalanan hidupku..he..he…mungkin suatu saat aku akan kembali membaca tulisanku dan menyadari kalau ternyata aku bisa.  Aku akan menulis meskipun kering makna, karena bisa jadi tulisan tersebut akan menginspirasi orang untuk menulis lebih baik lagi.  Maaf saja kalau tulisan kali ini tidak memiliki alur yang jelas.

Dari yang aku tahu menulis erat kaitannya dengan kebiasaan membaca, ketika seseorang dijejali dengan pengetahuan maka naluri intelektualnya akan menuntunnya menyampaiakan apa yang ada di pikirannya.   Itu sebabnya dalam sebuah tulisan,  seorang sastrawan disebut sebagai cendekiawan.  Karena kemampuan menulisnya sebenarnya didasari oleh keluasan wawasan yang dimilikinya.  Semakin luas pengetahuan seorang penulis maka karya yang dihasilkan akan semakin berbobot dan bermakna.

Salah satu buku favoritku yaitu mengenai sejarah peradaban Islam.  Buku tiga jilid yang pengarangnya aku lupa  menceritakan tentang sejarah peradaban dari masa awal Islam, Khulafaur Rasyidin, Dinasti Bani Umayah, Dinasti Bani Abbasiyah, hingga kekhalifahan Turki Ustmani.

Satu hal yang bisa dipetik, bahwa tradisi baca tulis erat kaitannya dengan tingginya suatu peradaban.  Pada puncak kejayaan Bani Abbasyiah, kekhalifahan tersebut memiliki perpustakaan yang luar biasa di Bagdad. Kota itu menjadi pusat ilmu pengetahuan.  Dan pada saat itu bahasa Arab -yang kini tergantikan dengan bahasa Ingris-tidak saja menjadi Lingua Franca atau hanya bahasa percakapan biasa, melainkan menjadi bahasa ilmiah pada sekitar abad 9 hingga abad ke 12 Masehi.  Meskipun pada akhirnya kejayaan itu musnah karena kebrutalan bangsa Tar-tar yang menyerang Bagdad dan menghancurkan perpustakaan dan jutaan kitab-kitab ulama yang sekaligus ilmuwan-ilmuwan Islam.

Adalah sebuah pelajaran ketika sejarah budaya masyarakat kita terlihat buram karena kurangnya penghargaan terhadap tradisi baca tulis.  Sebuah ironi ketika lembaran catatan-catatan bangsa kita di masa lalu justru dapat kita baca di rijks museum Belanda.  Tulisan-tulisan tersebut mungkin sederhana, meskipun hanya berupa lembaran lontar kidung cinta sepasang kekasih pada masa Dinasti Syailendra, ataupun catatan kejadian  pada saat itu yang terdistorsi dengan mitos, namun semua itu akan menjadi berharga dan bermakna seiring waktu.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Terlalu tinggi bila aku bicara mengenai peradaban karena merupakan usaha kolektif suatu bangsa.  Tapi kita harus sadar bahwa kita merupakan bagian dari masyarakat.  Berjilid-jilid buku tidak akan mungkin ada tanpa satu kata untuk memulainya.

Nah, bagaimana untuk mulai menulis, ada beberapa saran dari saya, yaitu

  • Mulailah membaca.  Semakin banyak yang kita baca maka semakin kuat dorongan menyampaikan pesan atau informasi yang kita dapat.
  • Kemudian mulailah dengan sesuatu yang sederhana.  Cobalah untuk menuliskan  kejadian-kejadian biasa di sekeliling kita.  Semakin sering kita lakukan, maka kepekaan untuk menulis suatu kejadian yang lebih besar akan tumbuh.   Coba anda bayangkan, sebuah batu nisan bertuliskan huruf arab  -tidak banyak- pada abad 12 M di Sumatera dapat menjadi landasan beberapa teori tentang sejarah masuknya Islam di nusantara.
  • Beranilah untuk menulis (ini yang kuanggap sulit).  Tulislah apapun yang dianggap perlu untuk ditulis, meskipun mungkin kita pikir tidak bermakna.  Tapi bisa jadi tulisan kita akan menginspirasi pembaca.   dengan catatan  tetap memperhatikan etika dan norma yang ada.
  • Carilah pembaca tulisanmu.  Manusiawi  kita butuh apresiasi terhadap karya kita .  Sekarang banyak media apresiasi, salah satunya Facebook. update status, menulis di Catatan.  Gunakan sebaik mungkin.
  • Saran tambahan, semakin banyak jenis buku yang dibaca maka akan semakin kaya perbendaharaan kata dan gaya penulisan.  Sebagai contoh, gaya penulisan Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi nya tentunya berbeda dengan Lupus karya Boim Lebon ataupun gaya penulisan Tatang S dengan Komik Gareng-Petruknya.

Jadi, mulailah menulis* untuk berbagi informasi, pengalaman serumu ataupun sekedar curhat.  Semoga bermanfaat.

*sebenarnya saran untuk diri sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: