Catatan perjalanan mendaki gunung tujuh puncak

Kabut yang menyelimuti bukit Telomoyo semakin jelas terlihat dari halaman rumah pak Mandar ketika matahari mulai terbit.

Suhu udara yang dingin tak menyurutkan antusias beberapa anggota Pasma SMAN 1 Slawi menikmati pemandangan alam sekitar di lereng Merbabu.  Matahari mulai beranjak terbit yang diiringi dengan mulai hangat suhu dilereng Merbabu.  Sehari sebelumnya mereka masih ada di Slawi namun malam ini tim pendaki Pasma menginap di rumah pak Mandar atas rekomendasi mas Gepeng (anggota Pasma angkatan Tapak Purnama) di desa Batur kecamatan Getasan kabupaten Semarang.  Dari desa ini jalur pendakian Merbabu Thekelan berawal.  Jalur ini pun dikenal sebagai jalur pendakian Kopeng.

Mendaki Merbabu

Tahun ini Pasma melaksanakan Pendakian Wajib Anggota di gunung Merbabu.  Pengalihan pendakian ini dilakukan setelah beberapa waktu lalu gunung Slamet mengalami aktifitas vulkaniknya yang ditandai dengan keluarnya lava pijar.  Meskipun menurut informasi jalur pendakian Slamet telah dibuka, namun  kami tetap memilih alternatif pendakian Merbabu untuk mengantisipasi kondisi alam yang sulit diprediksi.  Gunung Merbabu berketinggian 3171 mdpl, yang merupakan salah satu dari enam gunung di Jawa Tengah yang berketinggian lebih dari 3000 mdpl.  Merbabu dapat dicapai melalui jalur Magelang dan Salatiga menuju Kopeng.

Pada saat pemberangkatan dari SMAN 1 Slawi, tim Pasma mengalami beberapa kendala teknis salah satunya adalah terlambatnya jadwal keberangkatan kereta api Kaligung tujuan Semarang hingga lebih dari empat jam.  Keterlambatan inipun mempegaruhi rencana perjalanan yang sebelumnya telah direncanakan.

Dari Semarang tim Pasma menggunakan bis untuk menuju ke perempatan Pasar Sapi, Salatiga dan dilanjutkan menuju desa Batur menggunakan kendaraan angkut bak terbuka.  Tim Pasma tiba di rumah pak Mandar hampir tengah malam pada hari Rabu, 8 Juli 2008.  Sebelum istirahat malam tim Pasma melakukan briefing untuk merencanakan pendakian pada esok harinya.

Keesokan harinya setelah seluruh persiapan dirasa cukup tim Pasma mulai melaksanakan kegiatan dengan didampingi beberapa pedamping.  Pendamping diantaranya mas Nurcholis “Tua”  (Mapala UPN Veteran Yogyakarta),  mas Kutel, mas Eko “Kodok” (Komppas), mas Suwung (Mapalam STIE Dharmaputra Semarang) serta mas Vani “Kingkong”, mas Anggit, mba Atun dan mas Aziz dari alumnus Pasma.

1-pagi-hari-dilereng-Merbab

Kami memulai perjalanan dengan menyusuri rumah dan kebun penduduk untuk menuju pos pendatan pendakian untuk lapor dan membayar restribusi.  Setiap pendaki dikenakan restribusi sebesar Rp 2000,- per orang di pos masuk jalur pendakian.  Perjalananpun kami lanjutkan.  Pemandangan yang pertama kami lalui adalah kebun penduduk yang ditanami tembakau dan beberapa jenis sayuran.  Sebagian besar penduduk di lereng Merbabu ini bermata pencaharian sebagai petani.  Aroma kompos dari kotoran sapi mengiringi awal pendakian kami.  Warga disini menggunakannya sebagai penyubur tanaman.   Pola pertanian yang sama seperti yang biasa kita temui di daerah Bumijawa maupun Bojong di kabupaten Tegal.

Beberapa langkah mengakhiri perjalanan di area kebun penduduk. Beberapa anggota tim istirahat sembari menikmati panorama alam dari ketinggian yang berlahan-lahan mulai kami capai.  Bukit Telomoyo dan gunung Ungaran dikejauhan semakin jelas kami lihat.  Rasa penat pun seolah terlunasi dengan panorama indah tersebut.  Dan kami yakin, kami  akan dapat kami melihat hal yang lebih luar bisa lagi selama pendakian ini meskipun kami tahu bahwa ini hanya sebagian kecil dari tanda kebesaran Sang Pencipta.

Mencapai Puncak II Watu Tulis

Beberapa pendaki dari Jakarta menyapa kami yang mulai terengah-engah menapaki lereng Merbabu, mereka telah memulai kegiatan pendakian beberapa hari sebelum kami.  Minggu ini adalah minggu terakhir libur panjang sekolah, dan banyak dimanfaatkan oleh pelajar untuk berbagai aktivitas termasuk Sispala atau siswa pecinta alam dari Jakarta ini yang baru saja kami temui.

Setelah lebih dari satu jam perjalanan tibalah kami di Camp Pending yang tidak lain adalah pos pertama di jalur pendakian Merbabu ini.  Di pos inilah para pendaki mulai mengisi penuh perbekalan airnya di penampung saluran air milik warga setempat.

Pendakian kami lanjutkan menuju Camp 2 Pereng Putih.  Karakter vegetasi di lereng Merbabu sangat berbeda dengan yang biasa ditemui di gunung Slamet.  Lereng  gunung lebih banyak didominasi perdu dan beberapa pohon yang sengaja ditanam untuk penghijauan yang masih berumur muda.  Hal berbeda yang dapat kita temui di lereng gunung Slamet yang merupakan hutan hujan tropis setelah ketinggian lebih dari 1500 mdpl (meter diatas permukaan laut).  Dari hasil pengamatan, beberapa tanaman seperti Pinus, jenis paku-pakuan, lamtoro dapat kita lihat disepanjang jalur pendakian.

Tim Pasma beristirahat di Pereng Putih yang ditandai dengan adanya gubug singgah yang terbuat dari seng.  Namun beberapa anggota lain telah melanjutkan perjalanan.  Tim memang telah dibagi menjadi tim Leader yang berjalan didepan dan tim Sweeper atau penyapu yang ada di belakang.

Jalur pendakian setelah Pereng Putih berjalan melalui jalan setapak tepat disamping tebing setinggi puluhan meter dan juga jurang disisi lainnya.  Ditengah perjalanan tim Pasma sempat berhenti dan mengamati kawanan kera liar yang ternyata cukup banyak di gunung Merbabu.

Sekitar pukul satu siang seluruh tim pendaki telah mencapai Camp 3 Gumuk Mentul yang selanjutnya kami manfaatkan untuk shalat, istirahat dan makan siang.  Perjalananpun kami lanjutkan.  Menurut perkiraan, kami akan mencapai pos Pemancar sebagai tempat kami beristirahat malam ini pada saat maghrib.

Memasuki pukul 5 sore tim sweeper atau rombongan terahir mencapai “sabana” gunung Merbabu yang sebelum memasuki kawasan ini, peserta beristirahat terlebih dahulu  di Camp 4 Lempong Sapan.  Dikawasan setelah Lempong Sampan ini vegetasi didominasi rumput, sehingga pendaki dapat lebih leluasa memandang hamparan pulau jawa dari sudut pandang Merbabu.  Disisi barat dapat jelas terlihat rangkaian gunung Sindoro, gunung Sumbing dan dataran tinggi Dieng.  Dan sisi utara dapat terlihat puncak Telomoyo dan Ungaran.  Semua tanah tinggi yang terlihat tersebut seolah beralaskan gumpalan awan Cumulus (Cu) yang lebih terlihat seperli hamparan tumpukan kapas bila dilihat dari ketinggian lebih dari 2500 mdpl atau tempat kami berpijak saat ini.

sindoro-sumbing Terlihat dari Merbabu

Sang surya mulai beranjak menenggelamkan diri di horizon barat.  Cakrawalapun mulai dihiasi dengan bias merah yang sungguh sangat indah.  Berlahan cahaya kota Salatiga, Solo, Ambararawa dan beberapa daerah dilereng Merbabu mulai terlihat setelah hamparan Cumulus berangsur tersingkap dan berganti dengan kabut tipis yang terlihat membalut lembut puncak Telomoyo, Ungaran, Sindoro, Sumbing dan dataran Tinggi Dieng.

Suhu mulai turun drastis ketiga matahari sudah tidak terlihat lagi.  Angin dingin mulai menderu kencang seiring perubahan tekanan udara yang disebabkan perubahan suhu di kawasan puncak Merbabu.  Tim leader telah mencapai Puncak II Watu Tulis atau pos Pemancar ketika beberapa tim sweeper tengah berjuang menapaki terjalnya punggungan ditengah suhu yang semakin lama semakin turun.  Watu Gubug atau batu besar yang berbentuk seperti gubug dan terdapat gua kecil ditengahnya telah jauh dilewati.  Ini berarti Pemancar tinggal beberapa menit perjalanan.  Watu Gubug, berdasarkan informasi masyarakat setempat merupakan puncak pertama gunung Merbabu.

Watu Tulis atau Pemancar tidak dipakai untuk bermalam pendaki lain.  Sehingga sebagin dari tim pendaki Pasma dapat bermalam di bangunan beton yang ada diketinggian sekitar 2900 mdpl tersebut, dan sebagian anggota tim mendirikan tenda dome tepat dibawah menara pemancar.  Dinding kokoh “berhiaskan” karya Vandalis dari berbagai pelosok daerah tersebut sangat bermanfaat untuk menahan hembusan angin dingin pada malam hari.   Tempat yang cukup nyaman untuk shalat, makan malam, meminum kopi atau susu hangat maupun sekedar menikmati gemerlap lampu kota yang terlihat sangat indah dari ketinggian 2900mdpl. Malam ini kami tidur dibawah cahaya bulan purnama dan gemerlap bintang yang kini tampak lebih terang daripada lampu listrik.

Mendaki Triangulasi gunung Merbabu

Beberapa menit setelah fajar shidiq hilang dan cahaya matahari mulai menerangi punggungan di gunung Merbabu, seluruh anggota tim telah disibukkan dengan berbagai aktifitas.  Kami tidak ingin terlalu siang untuk memulai pendakian ke puncak.

menuju-puncak

Suhu sudah cukup hangat ketiga beberapa Anggota Aktif Pasma tengah melakukan warming-up sebagai persiapan akhir memulai pendakian ke puncak.

Perjalanan kepuncak dimulai dengan melewati Jembatan Setan, jalan setapak yang merupakan puncak punggungan yang berkelok-elok seperti yang kita lihat di Tembok Besar Cina. Jalan tersebut melewati suatu area yang mengeluarkan aroma pekat belerang.

Di tengah perjalanan beberapa kawanan kera menarik perhatian kami.  Disepanjang jalurpun dapat dengan mudah ditemui buah Beri hutan yang pada akhir para kera penghuni Merbabu harus rela berbagi Beri hutan dengan kami. Beberapa saat kemudian tibalah kami semua di puncak ke 4 atau Puncak Syarif gunung Merbabu.  Ada satu kejadian menarik ketika ada sebuah pesawat terbang TNI   dari Jogja terbang melintasi celah antara gunung Merapi dan Merbabu. Pesawat terbang baling tunggal di moncongnya tersebut terbang cukup dekat dengan tim Pendaki Pasma yang sedang berfoto ria disalah satu puncak.  Melihat gelagat kami yang terlihat sangat senang melihatnya, sang pilotpun melakukan manuver dan berbalik hingga akhirnya pesawat tersebut terbang rendah tepat diatas kami seperti salah satu adegan pesawat terbang rendah dalam film Conair.

foto di puncak Syarif dengan latar belakang gunung Merapi

Foto bareng Pasma+Pendamping
Setelah beberapa lama, tim Pasmapun melanjutkan pendakian ke puncak tertinggi gunung Merbabu.  Kali ini perjalanan lebih terasa berat karena jalur semakin curam dan harus dilalui dengan sedikit merayap didinding tebingnya.  Bebera puncak dapat dilalui diantaranya puncak Ondorante, Kentheng Songo dan puncak tertinggi atau puncak ke 7 gunung Merbabu yaitu puncak Triangulasi.

Upacara penyematan syal pendakianpun digelar sebagai tanda bahwa anggota muda Pasma angkatan Pasundan telah resmi menjadi anggota Pasma.  Catur, Zaki, Okta, Almas, Lili, Icha, Fina,  Nining selanjutnya akan menjadi Pengurus Harian Pasma SMAN 1 Slawi untuk periode selanjutnya.  Pengurus harian saat ini yaitu Pasma angkatan Suralintang yang diwakili Yudha dan Anto yang ikut mendampingi selama pendakian ini.

upacara penyematan syal pendakian

Beberapa saat kemudian seluruh tim mengakhiri pendakian untuk turun menuju pos pemancar, tempat peralatan dan bekal kami tinggalkan.  Siang itu juga kami turun pulang dan seluruh tim tiba di rumah pak Mandar pada malam hari.  Tidak memungkinkan bagi tim Pasma untuk langsung pulang ke Slawi sehingga kami memutuskan untuk menginap semalam di Semarang (mas Gepeng) untuk selanjutnya menuju Slawi pada keesokan harinya menggunakan kereta Kaligung.

Kami sangat bersyukur meskipun beberapa kendala merubah rencana awal namun secara umum seluruh kegiatan ini dapat berjalan baik.  Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat.  Karena Kita Hanya Punya Satu Bumi…

===========

di posting ulang dari tulisanku terdahulu di http://pasmajaya.wordpress.com/2009/07/17/catatan-perjalanan-mendaki-gunung-tujuh-puncak/ soalna lagi keasikan blogging ‘n blogwalking lagi..he..he..he..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: