Meminjam istilah kegagalan adalah investasi

Hari ini saya mendapat pelajaran berharga tentang menggambil hikmah dari kegagalan. Saya gagal memberikan pelayanan terbaik sebagai seorang pendidik ketika memberikan hasil evaluasi belajar siswa (dalam konteks instrospeksi bukan menyesali apa yang telah terjadi).   Mungkin sepintas terlihat normal dan biasa saja. Tapi saya benar-benar merasakan kegagalan dalam mengatur waktu sehingga berimbas pada hasil yang kurang maksimal.  Semester ini merupakan masa adaptasi dan proses belajar banyak hal.

Catatan pertama yaitu tanggung jawab saya sebagai wali kelas yang pada dasarnya berperan sebagai orangtua siswa di sekolah. Bertanggung jawab untuk mengenal lebih dekat dengan siswa. Bertanggung jawab untuk setidaknya memahami persoalan siswa yang melatarbelakangi berbagai persoalan kesiswaan.   Saya merasa gagal mengenal mereka sejak awal semester. Hal ini terlihat ketika saya baru sadar ternyata siswa perwalian  banyak bermasalah mengenai kehadirannya. Ketidakhadiran siswa dalam proses belajar mengajar beberapa anak mencapai angka belasan hari bahkan ada satu anak yang pernah tidak hadir hingga 23 hari dalam satu semester tanpa keterangan. Ironisnya hal tersebut baru diketahui sehari sebelum hasil belajar /rapot mereka akan diserahkan kepada orang tua masing-masing.  Membolos atau tidak hadir tanpa keterangan bagi seorang siswa merupakan indikasi banyak persoalan.

Persoalan kenakalan remaja bisa berawal ketika mereka lepas dari pengawasan orang tua maupun sekolah pada waktu-waktu KBM.  Pada saat itulah, yang mungkin karena diawali dengan niat buruk membolos maka mudah saja mereka terpengaruh dengan hal-hal negatif merokok, tawuran, persebaran pornografi  dsb.  Dan seperti kekhawatiran saya sebelumnya, ternyata beberapa orang tua mereka sama sekali tidak tahu bila putra mereka ternyata membolos.   Beliau-beliau hanya tahu anak mereka ijin berangkat sekolah.  Hal tersebut indikasi kegagalan komunikasi saya-selaku pihak sekolah-dan orangtua siswa. Untuk hal ini tidak berarti saya mengedepankan prasangka buruk pada anak didiku, tapi tindakan prefentif sangat diperlukan untuk mencegah bahaya yang lebih besar.  Untuk evaluasiku, kedepan diperlukan perhatian khusus terkait pembagian waktu antara proses KBM dan pendekatan personal terhadap masing-masing individu siswa perwalian.

Catatan kedua, administrasi pembelajaran tidak tertata dengan baik.  Maka pada saat hasil proses belajar selama satu  semester harus dirangkum dalam seminggu terakhir sebelum penerimaan rapot, saya mengalami banyak kesulitan.  Kesulitan yang disebabkan persiapan awal semester yang buruk.  Instrumen-instrumen penilaian tidak tertata dengan baik. Maka semua terlihat tidak rapi yang menyebabkan saya harus menata ulang rekapitulasi hasil belajar mereka.  Semua sudah bisa diatasi, tapi waktu menjadi kurang efisien dan efektif karena harus mengulangi pekerjaan yang idealnya tidak dilakukan pada saat-saat akhir.  Dan sebagai salah satu konsekuensinya adalah bahwa  saat memulai tulisan ini saya telah tidak tidur lebih dari 24 jam, karena harus menyelesaikan semua laporan hasil belajar siswa.  Alhamdullillah sudah berlalu.

Catatan ketiga, saya harus memperbaiki kompetensi dalam Bahasa Inggris tentu saja.  Sebagai guru bahasa Inggris sudah keharusan untuk terus memperbaiki kemampuan  saya, baik materi maupun metode pengajarannya. Saya masih harus belajar banyak.

Catatan keempat, pembagian hasil evaluasi belajar siswa merupakan kesempatan  emas untuk bertatap muka dan berkomunikasi mengenai perkembangan belajar anak didik.  Sebaiknya kesempatan ini harus dipersiapkan dengan baik.  Materi apa saja yang akan disampaikan benar-benar perlu disusun dengan baik sehingga setiap waktu yang ada akan bermanfaat secara maksimal.  Dan pada hari ini saya kurang puas dengan apa yang telah saya lakukan ketika secara langsung bertatap muka dengan orang tua siswa.  Banyak kendala eksternal yang dihadapi dan menghambat persiapan.  Tapi pada dasarnya semua itu bisa diminimalisir apabila tidak berkutat pada penggulangan kegiatan yang seharusnya dilakukan pada awal semester.

Tentu saja masih banyak hal yang masih harus dievaluasi.  Saya anggap saya telah gagal untuk maksimal. Tapi saya harus tetap melihatnya sebagai sebuah investasi.  Ketika kegagalan-kegagalan tersebut dikenali dan dievaluasi kita memiliki modal untuk lebih baik dimasa mendatang.

==============================

“Kenali kegagalan dan anggap itu sebagai investasi untuk lebih baik ” saran untuk diri saya pribadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: